Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2008

Bukti Tuhan itu Ada (2)

Pembuktian Sains Tentang Keberadaan TUHAN

Oleh : Rinaldi

sumber :

mailis cikeas@yahoogroups.com
13 September 2008

"Mari kita bahas permasalahan besar dalam sains, yakni tentang Tuhan" kata
seorang profesor filsafat yang atheis di muka kelas. Kemudian dia meminta
seorang mahasiswa baru maju ke depan kelas.
"Kamu beragama, bukan?" "Ya, pak."
"Jadi, kamu percaya pada Tuhan?" "Tentu saja."
"Apakah Tuhan baik?" "Jelas! Tuhan baik."
"Apakah Tuhan maha kuasa? Dapatkah Tuhan melakukan segala sesuatu?" "Ya."

"Kitab Suci mengatakan manusia pada dasarnya berdosa." Sang professor menyeringai sinis. "Ahh! Kitab Suci!" Dia berpikir sejenak.
"Coba yang satu ini. Misalkan ada seseorang sakit di sekitar sini dan kamu bisa menyembuhkannya. Bersediakah kamu menolongnya? " "Ya, pak, saya bersedia."
"Maka, kamu baik!" "Saya tidak mengatakan demikian."


"Mengapa tidak? Kamu bersedia menolong orang sakit dan menyembuhkannya jika
kamu bisa. Kebanyakan orang pun akan melakukannya jika bisa... tetapi kenapa
Tuhan tidak." [Tiada jawaban]


"Dia tidak melakukannya, bukan? Saudara saya adalah seorang beragama yang
meninggal karena kanker meskipun dia sudah berdoa meminta Tuhan
menyembuhkannya. Bagaimana bisa dikatakan bahwa Tuhan baik? Dapatkah kamu
menjawabnya? " [Tiada jawaban]


"Kamu tidak bisa menjawab, bukan?" Sang profesor meneguk air dari gelas di
mejanya untuk memberi kesempatan pada sang mahasiswa menenangkan diri.
"Mari kita lanjutkan, anak muda. Apakah Tuhan itu baik?" "Ng... Ya."
"Apakah setan itu baik?" "Tidak."
"Darimana datangnya setan?" Sang mahasiswa tergagap. "Dari... Tuhan..."
"Tuhan menciptakan setan, bukan?", Sang profesor menyeringai pada seluruh mahasiswa. "Rasanya kita akan mendapatkan banyak kegembiraan dalam semester ini, tuan-tuan dan nona-nona." Dia kembali ke mahasiswa di depan kelas.


"Katakan, adakah kejahatan di dunia?" "Ya, pak."
"Kejahatan ada di mana-mana, bukan? Apakah Tuhan menciptakan segala-galanya?
"Ya." "Jadi, siapa yang menciptakan kejahatan?" [Tiada jawaban]


"Adakah penyakit di dunia ini? Pelanggaran susila? Kebencian? Kekerasan?
Segala hal mengerikan, apakah semuanya ada di dunia ini?" Sang mahasiswa merasakan kegelisahan merayapi kakinya. "Ya." "Siapa yang menciptakan? " [Tiada jawaban]


Sang profesor tiba-tiba berteriak pada sang mahasiswa,

"SIAPA YANG MENCIPTAKAN SEMUA ITU? COBA KATAKAN PADA SAYA!"
Sang profesor memandang tajam wajah sang mahasiswa. Dengan suara dalam dia berkata, "Tuhan yang menciptakan semua kejahatan, bukan?" [Tiada jawaban]


Sang mahasiswa berusaha menggapai-gapai pegangan, matanya mencari-cari, namun gagal.
"Katakan", sambung sang profesor, "Bagaimana bisa dikatakan bahwa Tuhan baik jika Dia menciptakan kejahatan sepanjang waktu? Semua kebencian, kebrutalan, kesakitan, siksaan, kematian, keburukan, dan penderitaan diciptakan Tuhan yang baik ini di seluruh dunia,

Ya bukan, anak muda?" [Tiada jawaban]


"Tidakkah kamu melihatnya di seluruh dunia?" [Diam]
"Tidakkah?" tanya sang profesor menatap wajah sang mahasiswa sambil mendesis
"Apakah Tuhan baik?" [Tiada jawaban]


"Apakah kamu percaya Tuhan, nak?" Jawaban sang mahasiswa mengecewakannya.
"Ya, profesor. Saya percaya." Sang profesor menggeleng-gelengka n kepala dengan raut wajah sedih. "Sains mengatakan bahwa kamu memiliki panca indra yang kamu gunakan untuk
mengidentifikasi dan mengamati dunia sekitar kamu. Apakah kamu sudah melakukannya? "
"Belum, pak. Saya belum pernah melihat Tuhan." "Maka, katakan pada kami, pernahkah kamu mendengar Tuhan?" "Tidak, pak. Saya belum pernah."
"Pernahkah kamu merasakan Tuhan, mengecap Tuhanmu atau membaui-Nya? Intinya,
apakah kamu memiliki tanggapan indra apapun tentang Tuhan?" [Tiada jawaban]


"Jawablah." "Tidak, pak, saya khawatir saya belum pernah." "Kamu KHAWATIR... kamu belum?" "Belum, pak." "Tetapi kamu tetap mempercayaiNya? " "...ya..."



"Itu adalah KEPERCAYAAN! " sang profesor tersenyum arif pada sang mahasiswa.
"Sesuai kaidah empiris, mampu uji, protokol yang dapat didemonstrasikan,
sains menyatakan bahwa Tuhanmu tidak eksis. Apa pendapatmu tentang hal itu, nak? Dimanakah Tuhanmu sekarang?"[Tiada jawaban]


"Silakan duduk." Sang mahasiswa duduk. Kalah. Seorang mahasiswa lain mengangkat tangannya. "Profesor, bolehkah saya berbicara?" Sang profesor berbalik dan tersenyum.


"Ah, seorang garda depan agama lainnya! Mari, anak muda.
Silakan kemukakan kearifan yang patut bagi rekan-rekan anda." Sang mahasiswa
memandang sekeliling kelas lalu berkata pada sang profesor.
"Anda sudah menyatakan hal-hal yang sangat menarik, pak.
Sekarang saya mempunyai sebuah pertanyaan untuk anda.
Adakah sesuatu yang disebut panas?"
"Ya", sahut sang profesor. "Panas itu ada."
"Adakah sesuatu yang disebut dingin?"
"Ya, dingin juga ada."
"Tidak, pak! Itu tidak ada!"
Seringai sang profesor membeku.

Ruang kelas sekonyong-konyong menjadi sangat dingin. Sang mahasiswa melanjutkan. "Anda bisa mendapatkan macam-macam panas, bahkan lebih panas, super-panas, mega-panas, agak panas, sedikit panas, atau tidak panas, tetapi kita tidak memiliki sesuatu yang disebut 'dingin'. Kita dapat mencapai 458 derajat di bawah nol, dimana tidak ada panas, tetapi kita tidak bisa melampauinya lebih jauh lagi setelah itu.

Tidak ada sesuatu pun yang disebut dingin, kecuali jika kita bisa mencapai suhu yang lebih dingin dari minus 458. Anda lihat, pak, dingin hanyalah SEBUAH KATA yang kita gunakan untuk MENGGAMBARKAN tentang KETIADAAN panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas dapat kita ukur dalam satuan termal karena panas adalah energi. Dingin bukan lawan panas, pak, melainkanketiadaan panas." [Diam]


Sebuah pin terjatuh berdenting di suatu tempat dalam kelas.
"Apakah ada sesuatu yang disebut gelap, profesor?" tanya sang mahasiswa lagi
"Itu pertanyaan bodoh, nak. Apakah malam itu jika bukan gelap? Apa maksudmu?
"Jadi, anda mengatakan ada sesuatu yang disebut sebagai gelap?" "Ya..."


"Anda salah lagi, pak! Gelap bukanlah sesuatu, melainkan ketiadaan sesuatu.
Anda bisa mendapatkan cahaya buram, cahaya normal, cahaya terang, cahaya
menyilaukan, tetapi jika anda tidak mendapatkan cahaya secara
berkesinambungan, anda tidak mendapatkan apa-apa, dan itu disebut gelap,
bukan? Itulah pengertian yang kita gunakan untuk menggambarkan kata
tersebut. Pada kenyataannya, gelap tidak ada. Jika ada, seharusnya anda bisa
membuat gelap menjadi lebih gelap lagi." Menahan diri, sang profesor
tersenyum pada anak muda lancang di hadapannya. Ini benar-benar menjadi
semester yang bagus. "Maukah anda menjelaskan pada kami maksud anda, anak
muda?"
"Baik, profesor. Maksud saya adalah filosofi anda sudah cacat sejak awal
sehingga kesimpulan anda sudah pasti rancu". Sang profesor menjadi berang.
"Cacat? Lancang benar anda!"
"Pak, bolehkah saya menjelaskan maksud saya?"
Seisi kelas memasang telinga.
"Penjelasan. .. oh, penjelasan.. ." Sang profesor dengan sangat mengagumkan
berhasil mengendalikan diri. Sekonyong-konyong dia bagaikan keramahan itu
sendiri. Dia melambaikan tangannya untuk menenangkan kelas agar sang
mahasiswa dapat melanjutkan.
"Anda menggunakan premis tentang pasangan" sang mahasiswa menjelaskan.
Sebagai contoh, adanya hidup dan adanya mati;
Tuhan baik dan Tuhan jahat. Anda memandang konsep keTuhanan sebagai sesuatu
yang terbatas, sesuatu yang dapat diukur. Pak, sains bahkan tidak bisa
menjelaskan pikiran. Itu menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah
terlihat, banyak yang tidak memahaminya. Memandang kematian sebagai lawan
kehidupan adalah pengabaian fakta bahwa kematian tidak bisa eksis sebagai
sesuatu secara substantif. Kematian bukanlah lawan kehidupan, melainkan
ketiadaan kehidupan."
Sang mahasiswa mengangkat sebuah surat kabar dari meja rekannya.
"Ini adalah salah satu tabloid paling menjijikkan di negeri ini, profesor.
Adakah sesuatu yang disebut ketidaksenonohan? " "Tentu saja ada, sekarang..."

"Salah lagi, pak! Anda tahu, ketidaksenonohan adalah semata-mata ketiadaan
moralitas. Adakah yang disebut ketidakadilan? Tidak! Ketidakadilan adalah
ketiadaan keadilan. Adakah yang disebut kejahatan?" sang mahasiswa berhenti
sejenak.
"Bukankah kejahatan adalah ketiadaan kebaikan?" Wajah sang profesor berubah
merah. Dia sangat marah hingga sejenak kehilangan kata-kata.
Sang mahasiswa melanjutkan, "Jika ada kejahatan di dunia, profesor, dan kita
sepakat tentang itu, maka Tuhan, jika Dia eksis, tentu akan menyempurnakan
pekerjaanNya melalui agen kejahatan tersebut. Pekerjaan apakah yang Tuhan
sempurnakan dengannya? Alkitab menyatakan bahwa tiap manusia, sesuai
kebebasan keinginan sendiri, memilih kejahatan daripada kebaikan." Sang
profesor terhenyak. "Selaku ilmuwan filsafat, saya tidak memandang
permasalahan ini ada kaitannya dengan pilihan apapun; sebagai seorang
realis, saya benar-benar tidak melihat konsep Tuhan maupun faktor teologis
lain sebagian bagian dari dunia karena Tuhan tidak bisa diamati." "Saya
malah berpikir bahwa ketiadaan kode moral ketuhanan di dunia ini kemungkinan
adalah satu fenomena yang paling bisa diamati" sahut sang mahasiswa, "surat
kabar membuat milyaran dollar melaporkannya setiap minggu! Katakan,
profesor, apakah anda mengajar mahasiswa bahwa mereka berevolusi dari kera?"
"Jika anda mengacu pada proses evolusi alamiah, anak muda, ya, tentu saja
demikian yang saya lakukan."
"Pernahkah anda mengamati evolusi dengan mata anda sendiri, pak?"
Sang profesor mengertakkan gigi dan memandang sang mahasiswa dengan tajam.
"Profesor, karena tidak seorang pun pernah mengamati berlangsungnya proses
evolusi dan bahkan tidak seorang pun dapat membuktikan proses ini sebagai
upaya berkesinambungan, bukankah anda sedang mengajarkan opini anda, pak?
Apakah anda sekarang bukan seorang ilmuwan melainkan pengkhotbah? " "Saya
memaafkan kelancangan anda dalam nuansa diskusi filosofis kita. Sudah
selesaikah anda?" desis sang profesor. "Jadi, anda tidak menerima kode
moral ketuhanan melakukan apa yang layak?"
"Saya percaya pada apa adanya. Itulah sains!"
"Ahh! SAINS!" wajah sang mahasiswa berubah sinis. "Pak, anda telah
menegaskan bahwa sains adalah studi mengenai fenomena pengamatan. Sains juga
adalah premis yang cacat..." "SAINS CACAT?" sang profesor bergetar. Kelas
menjadi gempar.
Sang mahasiswa tetap tegar berdiri hingga kegemparan mereda. "Untuk
melanjutkan point yang sudah anda nyatakan sebelumnya pada mahasiswa lain,
bolehkah saya memberi contoh tentang apa yang saya maksudkan?"
Sang profesor diam.
Sang mahasiswa memandang sekeliling kelas ruang. "Adakah seseorang di kelas
ini yang pernah melihat otak pak profesor?" Kelas serentak pecah oleh tawa.
Sang mahasiswa menunjuk pada sang profesor yang sudah remuk.
"Adakah orang di sini yang pernah mendengar otak pak profesor, merasakan
otak pak profesor, menyentuh, atau membaui otak pak profesor?"
Tampaknya tidak seorang pun pernah melakukannya. Sang mahasiswa
menggeleng-gelengka n kepalanya dengan raut wajah sedih.
"Tampaknya tidak seorang pun pernah memiliki tanggapan indra apapun terhadap
otak pak profesor. Maka, sesuai aturan empiris, keajegan, protokol yang
dapat didemonstrasikan, sains, SAYA NYATAKAN bahwa bapak profesor kita tidak
punya otak!" Kelas tercengkeram dalam chaos.

Bukti Tuhan itu Ada (1)

Oleh : A. Nizami

sumber :
mailis cikeas@yahoogroups.com
13 September 2008


Assalamu'alaikum wr wb,

Dari eBook "Iman, Islam, dan Ihsan"
http://syiarislam. wordpress. com

Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling
utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan
itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan
yang nyata.
Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat
Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan
Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang
atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan
orang belaka.
a. Kisah Ulama dan Atheist
Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak
percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang
alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara
pertanyaannya adalah: "Benarkah Tuhan itu ada" dan
"Jika ada, di manakah Tuhan itu?"
Ketika orang atheist itu menunggu bersama para
penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum
juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk
berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang,
barulah muncul orang alim tersebut.
"Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun
deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga
jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang.
Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang
tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong
ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi
satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi
perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi
sungai dengan perahu tersebut." Begitu orang alim
itu berkata.
Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa
terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak,
"Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa
jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi
dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!" Orang
banyak pun tertawa riuh.
Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata,
"Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada
tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa
bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya?
Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau
menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?"
Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya
mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh
pernyataan mereka sendiri.
"Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,"
kata si Atheist. "Jika Tuhan itu ada, mengapa dia
tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?" Orang
atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah
melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.
Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist
dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.
"Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali." Begitu
si Atheist mengaduh.
Si Alim bertanya, "Ah mana ada sakit. Saya tidak
melihat sakit. Di mana sakitnya?"
"Ini sakitnya di sini," si Atheist menunjuk-nunjuk
pipinya.
"Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para
hadirin melihat sakitnya?" Si Alim bertanya ke orang
banyak.
Orang banyak berkata, "Tidak!"
"Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan
berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena
kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu
tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa
melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya."
Demikian si Alim berkata.
Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi
pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena
panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan
Tuhan adalah pernyataan yang keliru.
Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau
didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu
ada?
Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran,
bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah
dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?
Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus
(rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa
melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa
melihatnya jika meletakkan benda tersebut di bawah
mikroskop yang amat kuat).
Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik.
Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi
ternyata hal itu ada?
Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang
terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.
Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas
pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara.
Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak
dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian
pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu
selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu
menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk
mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah
mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui
keberadaan Sang Maha Pencipta!
b. Alam Semesta. Siapakah Penciptanya?
Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi
jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan
lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata
semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada
pembuatnya.
Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja
ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih komplek.
Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar
manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu
kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya
sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 8
planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya,
tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya
sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300
ribu kilometer/detik! ) bersama sekitar 100 milyar
bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1
galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang
tergabung dalam 1 "Cluster". Cluster ini bersama
ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster.
Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk
"Jagad Raya" (Universe) yang bentangannya sejauh
30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar
Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena
jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15
Milyar Tahun Cahaya.
Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150
juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8
menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh
selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran
ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan
Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi
kebesaran penciptanya.
Dalam Al Qur'an, Allah menjelaskan bahwa Dialah
yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan
lain-lain:
"Maha Suci Allah yang menjadikan di langit
gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga
padanya matahari dan bulan yang bercahaya." [Al
Furqoon:61]
c. Adakah yang Mengatur Alam Semesta?
Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya,
laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di
bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara
kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara.
Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan
untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot,
sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan
lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di
darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap
terjadi kecelakaan lalu lintas.
Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan
lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih
(umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun)
tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak
pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak
matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi,
atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang
Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua
itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur.
Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan
(orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita
sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin
bahwa Tuhan itu ada.
"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan
bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah
(tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan
dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda
(kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."
[Yunus:5]
"Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan
dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan
masing-masing beredar pada garis edarnya." [Yaa
Siin:40]
Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya
Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:
"Allah lah Yang meninggi-kan langit tanpa tiang
(sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia
berse-mayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari
dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang
ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya) ,
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) , supaya kamu
meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu." [Ar
Ra'd:2]
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka." [Ali Imron:191]
d. Siapakah Pencipta Manusia dan Tumbuhan?
Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak
mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka
tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang
menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:
"Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu
pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah
yang menciptakannya? " [Al Waaqi'ah:58- 59]
"Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam?
Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang
menumbuhkannya? " [Al Waaqi'ah:63- 64]
"Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang
menjadikannya? " [Al Waaqi'ah:72]
e. Bisakah Manusia Menciptakan Seekor Lalat?
Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk
menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin
bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah
diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor
lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa
bereproduksi (beranak-pinak) , tak ada satu pun yang
bisa menciptakannya kecuali Allah:
"…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah
sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun,
walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika
lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah
mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat
lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang
disembah." [Al Hajj:73]
Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur'an
lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu
ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta
Name :
Web URL :
Message :